INFOSOBATDESA NEWS- Weekombaka, 8 Juni 2026, Dunia komunikasi saat ini memudahkan setiap ucapan tersebar luas dan bisa disaksikan oleh banyak orang, termasuk dalam kegiatan siaran langsung. Baru-baru ini, dalam sebuah kesempatan yang disiarkan secara langsung, terdengar pernyataan dari seorang Kepala Sekolah yang menyatakan: “Hanya sekolah kami yang punya hati, sedangkan sekolah lain tidak memiliki hati.”
Pernyataan yang dikaitkan dengan nama lembaganya itu langsung mengundang pertanyaan mendalam di hati banyak penonton: Kalau hanya sekolah yang namanya mengandung kata “Hati” saja yang dianggap berhati, lalu bagaimana nasib dan penilaian terhadap ratusan sekolah lain yang tidak memiliki kata tersebut dalam namanya? Apakah pengabdian mereka dianggap tidak berharga dan tidak tulus hanya karena perbedaan tulisan di papan nama?
📌 NAMA ADALAH IDENTITAS, BUKAN UKURAN KETULUSAN
Perlu kita luruskan bersama: kata “Hati” yang tercantum dalam sebuah nama sekolah sejatinya hanya berfungsi sebagai doa, harapan, dan pedoman hidup bagi warga sekolah itu sendiri. Tujuannya agar setiap orang di dalamnya bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab, kasih, dan ketulusan. Bukan berarti kata itu menjadi hak eksklusif untuk menilai dan menghakimi lembaga lain.
Jika logikanya ditarik sejauh itu, maka muncullah pertanyaan yang sangat wajar:
– Apakah guru yang mengajar dengan sabar, meski fasilitas terbatas, tidak berhati?
– Apakah operator yang bekerja lembur melengkapi data, meski jaringan sering terputus, tidak berhati?
– Apakah sekolah yang tetap mendukung kegiatan bersama, bahkan mencetak kebutuhan administrasi dan undangan demi kepentingan umum, meski sering dipandang “terbelakang”, tidak memiliki hati?
Jawabannya tentu TIDAK. Semua sekolah berdiri di atas amanah yang sama: mencerdaskan anak bangsa. Ketulusan itu terlihat dari keringat, pengorbanan, dan hasil kerja nyata — bukan dari apa yang tertulis sebagai nama lembaga.
⚠️ UCAPAN YANG TERDENGAR, TINDAKAN YANG DINILAI
Karena disampaikan dalam siaran langsung, ucapan itu menjadi milik umum dan bisa dipertanggungjawabkan maknanya. Ucapan seperti itu justru mengundang pengamatan lebih teliti: apakah sikap sehari-hari benar-benar sejalan dengan makna nama yang dibanggakan?
Sering kali kenyataan berbicara sebaliknya: sekolah yang tidak menyandang kata “Hati” justru terlihat lebih rendah hati, mau bekerja sama, dan tetap memberikan kontribusi tanpa banyak bicara. Sedangkan mereka yang mengaku paling berhati, justru terlihat membeda-bedakan, merendahkan, dan memaksakan pendapatnya — sebuah sikap yang jauh dari makna kebaikan yang ingin dijunjung tinggi.
✅ PESAN UNTUK SEMUA PIHAK
Mari kita sepakat bersama: Tidak ada sekolah yang “tidak berhati” selama ia dikelola dengan niat tulus untuk melayani pendidikan. Perbedaan nama bukan alasan untuk memisahkan atau memandang rendah satu sama lain.
Ingatlah kembali: “Barang siapa meninggikan dirinya, ia akan direndahkan; tetapi barang siapa merendahkan dirinya, ia akan ditinggikan.”
Biarlah ucapan dalam siaran langsung itu menjadi bahan perenungan bersama, bukan untuk memecah belah, melainkan untuk mengingatkan: bahwa nilai tertinggi seorang pemimpin dan lembaga bukanlah apa yang diucapkan, melainkan apa yang dibuktikan dalam perbuatan nyata setiap harinya.
Salam Sadar
SMK Iya Tekki tetap berkarya, sampai kebenaran dilihat dengan mata hati yang terbuka.
✍️ Disusun sebagai tanggapan dan renungan terbuka
Penulis:***






